Dosen IAIN Kerinci Peroleh Penghargaan Nasional di NAWA 2025

Dosen IAIN Kerinci Peroleh Penghargaan Nasional di NAWA 2025

SUNGAI PENUH – Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kerinci kembali mendapatkan pencapaian yang membanggakan di tingkat nasional. Rifqi Nurdiansyah, S.Sy., M.H., seorang dosen di Fakultas Syari’ah yang sedang menempuh studi doktoral di Program Studi Ilmu Islam Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), berhasil meraih penghargaan kategori Pascariset Terbaik dalam acara Nusantara Academic Writing Award (NAWA) 2025. Prestasi ini tidak hanya mencerahkan nama Rifqi secara pribadi, tetapi juga meningkatkan citra IAIN Kerinci sebagai lembaga pendidikan Islam yang aktif berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia.

Penghargaan tersebut diberikan dalam rangkaian acara Dialog Budaya dan NAWA 2025 yang berlangsung di Balairung Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga, pada hari Jumat (26/9).  Acara tersebut dihadiri oleh lebih dari 300 peserta, seperti akademisi dari berbagai universitas, tokoh agama, budayawan, maupun komunitas seni. Keberagaman peserta ini menunjukkan bahwa NAWA bukan hanya ajang kompetisi akademik, tetapi juga wadah dialog lintas disiplin yang menyatukan ilmu, agama, dan budaya Indonesia. Program tersebut terselenggara atas kerjasama Nusantara Institut dengan mitra startegis, yakti Bakti BCA  dan Bakti Pendidikan Djarum Foundation, yang selama ini konsisten mendukung oengembangan Riset, pendidikan , dan kebudayaan di indonesia.

NAWA merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh Nusantara Institute, sebuah lembaga riset dan pendidikan yang fokus pada kajian interdisipliner mengenai agama, budaya, dan masyarakat Indonesia. Tujuan dari acara ini adalah memperkuat tradisi penulisan akademik yang berbasis riset di kalangan mahasiswa pascasarjana, baik yang sedang menempuh program magister maupun doktor. Karya yang dinilai melibatkan beberapa aspek, seperti orisinalitas ide, kedalaman analisis, kontribusi ilmiah, serta relevansi penelitian terhadap dinamika sosial dan budaya di era kontemporer. Dengan mekanisme ini, NAWA tidak hanya menghadirkan penghargaan yang bermakna, tetapi juga berperan sebagai alat ukur dalam menilai seberapa besar dampak sebuah penelitian terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan kehidupan masyarakat.


Dalam ajang Nusantara Academic Writing Award (NAWA) 2025, Rifqi berhasil meraih penghargaan bergengsi kategori Pascariset terbaik melalui Disertasi berjudul "Islamic Hybridity and Meaning-Making of Islam in Indonesia : Islam Langkah Lama of the Talang mamak Tribe." karya akademiknya ini mengupas secara memdalam proses hibriditas islam dalam komunitas adat Talang Mamak, sebuah kelompok masyarakat yang hingga kini masih mempertahankan tradisi leluhur sembari menjalankan ajaran Islam.

Menurut Rifqi, partisipasinya dalam NAWA menjadi pengalaman intelektual yang sangat berharga, serta memberikan nilai tambah besar dalam pengembangan karyanya. Ajang ini bukan hanya ruang kompetisi, tetapi juga forum ilmiah yang menggabungkan para peneliti dari berbagai disiplin ilmu. Melalui diskusi intensif, ia memperoleh wawasan baru yang tidak hanya memperkaya disertasinya, tetapi juga memperluas sudut pandangnya mengenai keterkaitan antara agama, budaya, dan masyarakat Indonesia.

“Program NAWA memberikan manfaat besar bagi keberlanjutan karya ilmiah di Indonesia. Saya mendapat masukan berharga dari para ahli yang memperkaya penyempurnaan disertasi saya. Harapan saya, program ini terus berlanjut agar riset akademik semakin memberikan kontribusi pada kemajuan pendidikan, kebudayaan, dan keagamaan di tanah air,” ujarnya.

Selain itu, Rifqi menekankan bahwa forum seperti NAWA memiliki peran strategis dalam membangun budaya akademik yang sehat di Indonesia. Dengan adanya penilaian yang ketat, standar akademik yang jelas, serta kesempatan untuk mendapatkan masukan dari ahli lintas disiplin, para peneliti muda terdorong untuk menghasilkan karya yang orisinal, relevan, dan berdampak. Hal ini, menurutnya, menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing penelitian Indonesia di kancah global.

Rektor IAIN Kerinci, Dr. Jafar Ahmad, S.Ag., M.Si., memberikan apresiasi yang dalam atas pencapaian tersebut. Menurutnya, penghargaan yang diraih Rifqi tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga merefleksikan kualitas akademik dosen dan IAIN Kerinci. Ia menegaskan bahwa keberhasilan ini membuktikan bahwa institusi perguruan tinggi berbasis daerah mampu bersaing secara setara dengan lembaga besar di tingkat nasional, bahkan memiliki potensi untuk menembus ranah internasional.

Selanjutnya, Dr. Jafar Ahmad menekankan bahwa prestasi Rifqi sejalan dengan visi IAIN Kerinci sebagai lembaga yang berkomitmen mengembangkan ilmu pengetahuan berbasis keislaman, kebudayaan, dan kearifan lokal. Menurutnya, pengakuan dari Nusantara Institute melalui program Nusantara Academic Writing Award (NAWA) tahun 2025 menjadi bukti nyata bahwa riset yang berfokus pada isu lokal, seperti penelitian mengenai komunitas Talang Mamak, mampu memberikan kontribusi penting bagi diskursus akademik yang lebih luas.

"Capaian ini menunjukkan bahwa akademisi dari daerah memiliki daya saing yang kuat. Dengan riset yang serius, metode yang teruji, serta komitmen untuk terus berkembang, dosen-dosen IAIN Kerinci dapat berperan aktif dalam percakapan ilmiah di tingkat global. Kami berharap prestasi ini menjadi inspirasi sekaligus motivasi bagi sivitas akademika lainnya untuk meningkatkan kualitas karya ilmiah mereka," ujarnya.

Rektor juga menambahkan bahwa dukungan kelembagaan sangat penting dalam mendorong lahirnya karya akademik berkualitas. Oleh karena itu, pihaknya berkomitmen untuk memperkuat budaya riset di lingkungan kampus dengan menyediakan fasilitas, pelatihan, serta ruang kolaborasi lintas disiplin. Dengan demikian, penghargaan yang diterima Rifqi diharapkan tidak hanya menjadi pencapaian individual, tetapi juga menunjukkan kemajuan secara kolektif.


Keberhasilan Rifqi dalam NAWA 2025 memiliki dua makna yang penting. Yang pertama, secara akademik, penelitian ini memperkaya pembahasan mengenai hubungan antara agama dan budaya di Indonesia serta memperkuat kontribusi studi Islam Nusantara di tingkat global. Yang kedua, secara sosial, penghargaan ini menunjukkan bahwa riset bisa menjadi alat penting untuk memahami dinamika budaya, membangun toleransi, serta memperkuat kebersamaan di tengah keragaman masyarakat.

Penutupan NAWA 2025 diakhiri dengan pertunjukan seni budaya yang melibatkan berbagai komunitas. Simbolik ini menyampaikan pesan bahwa ilmu pengetahuan dan budaya adalah dua hal yang saling melengkapi dalam membangun peradaban. Bagi IAIN Kerinci, pencapaian Rifqi Nurdiansyah tidak hanya meningkatkan citra akademik kampus, tetapi juga menegaskan komitmen institusi dalam menunjang riset yang inovatif, kontekstual, dan bertujuan untuk pelayanan masyarakat. Akhirnya, prestasi ini menjadi bukti bahwa perguruan tinggi di daerah memiliki peran penting dalam memperkaya kekayaan intelektual Indonesia sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan ilmu pengetahuan di tingkat internasional.

 

Riki - PUSAT MEDIA DAN PROMOSI
©2025 IAIN Kerinci