Air Mata Ronaldo

Air Mata Ronaldo

Dilansir dari laman : indolink 

                        Oleh : 

                    Ahmad Zainul Hamdi

(Kepala Pusat Strategi Kebijakan Pendidikan Agama dan               Keagamaan, Kemenag)

Setelah pertandingan itu, semua mata tertuju pada satu sosok legenda: Cristiano Ronaldo.

Air matanya meleleh. Wajahnya mengguratkan kesedihan yang teramat dalam. Stadion bergemuruh, entah sebagai penghormatan atau cemoohan. Hampir semua kamera tak menyorot sudut lain selain wajah sedih yang berlinang air mata itu.

Anda boleh menjadi pembencinya atau pecintanya. Anda bebas menentukan kata hati: bahagia atau bersedih atas kekalahannya. Dengan kebebasan inilah saya menulis artikel ini.

Jika pembenci Ronaldo selalu mengambil posisi memuji Lionel Messi dan terus-menerus membangun narasi permusuhan di antara kedua pemain tersebut, keduanya justru berulang kali membantahnya.

Mereka saling menghormati dalam kisah kompetisi sebuah liga sepak bola. Bahkan, saking bernafsunya sebagian orang ingin membuat mereka “bermusuhan”, ketika mereka telah terpisah dalam jarak ribuan kilometer, berada dalam dua kompetisi yang tak saling bersentuhan pun, cinta permusuhan itu terus-menerus menambah bumbu seolah-olah benar-benar ada permusuhan di antara dua pemain besar ini.

Sementara kedua bintang itu tetap menampilkan keajaiban demi keajaiban dari lapangan bola dengan sikap hormat yang sama, para pembenci dan pecintalah yang justru terjebak dalam permusuhan yang absurd.

Sejak awal saya mengagumi Ronaldo. Bukan semata-mata karena seni permainan dan sentuhan bolanya yang ajaib. Saya juga tidak pernah memiliki kebencian setitik pun terhadap Messi. Saya sangat menikmati tarian-tariannya di lapangan bola. Dengan hati jernih, seharusnya tak akan ada orang yang tidak mengakui kehebatan dan rekor-rekor Messi.

Namun, hati saya lebih tersentuh kepada Ronaldo karena hal-hal yang berada di luar area permainan bola.

Inilah orang yang masa kecilnya tidur dalam kelaparan. Andai tak ada pelayan toko yang memberikan sisa-sisa roti untuk makan, dia mungkin akan tidur dengan menahan lapar hingga pagi.

Dia lahir dari keluarga yang bahkan untuk membelikan sepatu bola anaknya saja tidak mampu. Ronaldo kecil hidup dengan ayah pemabuk. Andai tak ada ibu yang sangat menyayanginya, mungkin dia hanyalah debu jalanan Madeira, Portugal.

Dia tak memiliki bakat sepak bola alami seperti Messi. Jika dia memiliki kemampuan menendang bola, itu adalah kemampuan umum yang dimiliki anak-anak sebayanya. Yang membedakannya adalah dia punya mimpi. Dan dia melakukan sesuatu di luar batas kemampuannya untuk mewujudkan mimpi itu.

Dia orang paling awal berada di tempat latihan. Dia juga orang paling akhir yang pulang dari tempat latihan. Dia menjaga pola hidupnya tanpa harus ada pengawas yang memarahinya.

Anak kecil yang meminta sisa roti kepada pelayan itulah yang akhirnya berubah menjadi bintang sepak bola. Di seluruh klub yang dibelanya, dia menanggung beban jauh lebih besar dari semua orang.

Jika klubnya menang, dia akan mendapatkan seluruh pujian. Jika klubnya kalah, dia akan menjadi orang pertama yang dipersalahkan, padahal dia sudah melakukan apa pun yang dimilikinya.

Saya teringat pada nasihat almarhum ayah saya.

Ayah saya menjelaskan bakat dan kerja keras dengan analogi dua jenis pisau. Ada pisau yang terbuat dari baja pilihan dan ada pisau yang hanya terbuat dari pelat besi.

Jika pisau yang terbuat dari baja pilihan mendapatkan perawatan yang baik, ditempa dengan baik, dan diasah dengan baik, ia akan menjadi pedang yang layak dipegang para ksatria di medan laga.

Namun, meskipun pisau itu terbuat dari baja pilihan, jika dibiarkan tanpa perawatan yang baik, ia hanya akan menjadi barang rongsokan yang berakhir di tempat sampah.

Pisau yang terbuat dari pelat besi mungkin sejak awal tak layak untuk berada di tangan ksatria yang berjuang di medan laga. Pisau itu mungkin hanya layak menjadi barang biasa.

Namun, jika ia dirawat dengan baik dan diasah dengan baik, ia akan menjadi pisau dapur yang digunakan untuk memasak, menghidupi keluarga, dan anak-anak.

Bakat alam dan tempaan yang baik membuat Messi tampil megah. Tapi, kita sering kali kehilangan rasa hormat kepada orang yang tak memiliki apa-apa, tetapi menempa dirinya untuk menjadi sesuatu yang berguna dalam kehidupan.

Orang sering kali hanya terpukau dengan bakat alam. Padahal, bakat itu bukan apa-apa jika tidak diasah.

Mungkin kita tidak memiliki keistimewaan apa-apa saat dilahirkan ke dunia. Tapi kita memiliki semuanya untuk menjadi berguna.

Terhadap wajah yang berlinang air mata itu, aku ingin mengatakan:

“Aku bisa merasakan sedihmu. Tapi kamu tak perlu membuktikan apa-apa, karena setiap langkahmu adalah bukti. Kamu mungkin tidak mendapatkan piala, tapi kamulah piala dalam hidup ini.

Memandangi wajahmu sesedih itu, aku malu karena selama ini lupa mendefinisikan arti kebahagiaan. Seakan-akan kebahagiaan hanya ada ketika kita mengalahkan orang lain dan menjadi juara.

Padahal, hidup adalah tentang melakukan yang terbaik, detik demi detik.”(*)

Ahmad Inung
Kepala Pusat Strategi Kebijakan Pendidikan Agama dan Keagamaan, Kemenag.