Saat Kekuasaan Lupa Kebijaksanaan

Saat Kekuasaan Lupa Kebijaksanaan

Masih ingat dalam trilogi Spider-Man yang tayang pada 2002? Tobey Maguire tampil sebagai Peter Parker, sosok pemuda lugu yang mendadak memiliki kekuatan super. Di sisinya ada Kirsten Dunst berperan sebagai Mary Jane Watson, gadis cantik dengan gigi gingsul yang diam-diam menjadi pujaan hati Peter. 

Namun, tulisan ini tidak hendak mengulas plot Spider-Man. Titik berangkatnya adalah sebuah adegan ketika Paman Ben berbincang dengan Peter Parker di dalam mobil. Itu dilakukan setelah sang paman mengetahui bahwa keponakannya baru saja dianugerahi kekuatan super.

Sebagai paman yang mengasuh Peter setelah kedua orang tuanya meninggal, Paman Ben memahami bahwa kekuatan super yang dimiliki Peter dapat menjadi pedang bermata dua. Kekuatan itu bisa digunakan untuk kebaikan, tetapi juga dapat menjerumuskan pemiliknya pada kesewenang-wenangan ketika merasa tidak ada seorang pun yang mampu menghalanginya. 

Karena itu, Paman Ben menyampaikan pesan yang kemudian menjadi salah satu kalimat paling ikonik dalam Spider-Man: "Remember, with great power comes great responsibility." Ingatlah, di balik kekuatan yang besar, ada tanggung jawab yang sama besarnya.

Sekilas, ungkapan “great power comes great responsibility” terdengar sederhana. Kita mungkin memahaminya sebagai pesan bahwa orang yang memiliki kekuatan harus menggunakannya untuk melawan kejahatan. Logikanya, jika kita memiliki kekuatan seperti Spiderman, kita akan menggunakannya untuk menghadapi perampok, penjahat, atau siapa pun yang merugikan orang lain. 

Apakah pemahaman itu keliru? Tidak sepenuhnya salah sih. Namun, ada satu hal yang perlu diwaspadai! Kekuatan besar tidak selalu membuat seseorang bertindak benar. Tanpa memanggul tanggung jawab, kekuatan justru dapat menjadi dalih untuk melampiaskan ego, amarah, bahkan dendam. 

Peter Parker mengalami dilema itu. Setelah Paman Ben terbunuh oleh perampok yang sebelumnya ia biarkan melarikan diri, Peter mulai menggunakan kekuatannya untuk memburu para penjahat. Peristiwa itu menjadi babak awal dari rentetan aksi heroik Peter sebagai manusia laba-laba.   

Namun, justru di situlah jebakan paling ironis dari kekuatan dan kekuasaan. Atas nama tanggung jawab, kekuatan dapat berubah menjadi alat pembalasan dendam. Bahayanya tidak berhenti pada egoisme seperti yang dialami Peter Parker muda. Ada bahaya yang jauh lebih kelam, yaitu ketika kekuatan menyatu dengan kekuasaan berada di tangan orang yang merasa dirinya paling benar, tetapi sepi dari kebijaksanaan. 

Kita kerap menyaksikan paradoks semacam itu. Seseorang yang dikenal saleh, berilmu, atau taat beragama, tiba-tiba menjadi sosok dingin dan kejam ketika memiliki kendali atas orang lain. Mengapa hal itu bisa terjadi? Jawabannya adalah power. Kekuatan yang menyatu dengan kekuasaan tanpa kebijaksanaan akan menjadi mesin penghukuman yang dingin dan kering dari rasa kemanusiaan.  

Tanpa kebijaksanaan dan kelapangan dada, kontrol atas orang lain mampu melahirkan penghakiman yang membabi buta. Kekuatan tanpa kebijaksanaan juga bisa menjadi topeng kesucian, di mana dendam pribadi, frustrasi atau ego yang terluka dapat disamarkan dengan bungkus jubah moralitas.  

Yang lebih kelam adalah ketika semua itu dilandaskan atas nama Tuhan dan agama. Seseorang bisa menindas, mempermalukan, menghancurkan reputasi, bahkan mematikan kehidupan sosial orang lain, tetapi merasa tidak sedang berbuat dosa karena menganggap dirinya menjalankan misi suci, menghukum mereka yang dianggap berdosa. Pada titik itulah agama berisiko berubah menjadi tameng bagi nafsu diri yang tak terpuaskan.

Memegang kekuasaan, sekecil apa pun, ibarat menggenggam pisau yang sangat tajam. Ia bisa digunakan untuk melindungi, tetapi juga dapat melukai. Karena itu, orang yang memiliki kekuasaan perlu terus bertanya kepada dirinya sendiri: apakah kekuatan ini digunakan untuk mengayomi atau menghakimi? Apakah jabatan dan posisi dipakai untuk membimbing atau menyingkirkan mereka yang berbeda? Apakah kekuasaan dan kewenangan yang dimiliki digunakan untuk melayani ataukah menyikat mereka yang tak sepaham? 

Sebab, kekuatan tanpa tanggung jawab dapat melahirkan kehancuran. Namun, kekuatan tanpa kebijaksanaan adalah kejahatan yang dibungkus kesucian. 

Pada akhirnya, kekuatan bukan terutama soal "Apa yang bisa aku lakukan ", melainkan "Bagaimana aku menjaga orang lain dengan apa yang kupunya". Kekuatan yang dibarengi dengan kebijaksanaan dan kerendahan hati akan menjaga kita untuk tetap memiliki kewarasan dan rasa kemanusiaan. 

Powered by GliaStudios 

Ahmad Inung Kepala Pusat Strategi Kebijakan Pendidikan Agama dan Keagamaan,

 Kemenag RI Editor: Muhammad Zunus