JAKARTA, IAIN Kerinci - Sidang Kelulusan Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM-PTKIN) Tahun 2026 yang digelar di Grand Platinum Hotel, Sawah Besar, Jakarta, Sabtu (27/6), menjadi momentum refleksi bagi arah transformasi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN). Dalam forum tersebut, para pimpinan Kementerian Agama menekankan pentingnya mengembalikan PTKIN sebagai pusat otoritas keilmuan dan keagamaan di Indonesia.
Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Prof. Dr. Phil. H. Kamaruddin Amin, M.A. menilai telah terjadi pergeseran otoritas keagamaan dalam dua dekade terakhir. Menurutnya, pada awal tahun 2000-an, PTKIN menjadi rujukan utama dalam otoritas akademik dan keilmuan Islam. Namun, posisi tersebut kini mulai bergeser ke berbagai lembaga keagamaan, seperti organisasi kemasyarakatan Islam dan pesantren.
Ia mencontohkan sejumlah negara yang tetap menjadikan perguruan tinggi sebagai pusat otoritas keagamaan. Di Mesir, otoritas tersebut berada di Universitas Al-Azhar, sedangkan di Madinah, otoritas keilmuan juga berpusat di perguruan tinggi.
"PTKIN harus merebut kembali otoritas keilmuan tersebut. Apa pun bentuk transformasi yang dilakukan, yang paling penting adalah menghasilkan lulusan, terutama doktor, yang memiliki otoritas keilmuan yang kuat," ujarnya.
Menurutnya, PTKIN merupakan institusi yang harus terus dijaga karena memiliki peran strategis dalam merepresentasikan otoritas keilmuan Islam. Ia juga menegaskan bahwa transformasi PTKIN harus berfokus pada dua aspek utama, yakni integrasi keilmuan dan menjaga kualitas program studi keagamaan agar tidak mengalami penurunan.
"Transformasi PTKIN harus tetap berpijak pada penguatan integrasi keilmuan dan kualitas program studi keagamaan sebagai fondasi utama," tegasnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Prof. Sahiron, menyampaikan bahwa arahan Sekjen Kementerian Agama menjadi pengingat sekaligus motivasi bagi PTKIN untuk terus memperkuat perannya sebagai pusat otoritas keagamaan. Sebagai bentuk kemajuan PTKIN, ia memaparkan sejumlah capaian internasional. Berdasarkan pemeringkatan Times Higher Education, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta berada pada peringkat 601–800 dunia, UIN Raden Intan Lampung berada pada kelompok peringkat 800–1.500, sementara UIN Sumatera Utara menempati kelompok 1.000–1.500.
Di bidang publikasi ilmiah, UIN Salatiga berhasil mempertahankan jurnal bereputasi internasional kategori Q1 selama delapan tahun berturut-turut. UIN Surakarta juga menjadi satu-satunya PTKIN yang memiliki jurnal bidang ekologi terindeks Scopus, sedangkan UIN Makassar telah memiliki 84 jurnal yang terindeks SINTA.
"Capaian ini menunjukkan bahwa PTKIN telah memberikan dampak yang signifikan, meskipun penguatan otoritas keilmuan tetap menjadi fokus utama," katanya.
Ia juga menjelaskan sejumlah program peningkatan kualitas sumber daya manusia, di antaranya program pembibitan bagi 50 dosen yang akan mendapatkan pembinaan intensif selama empat bulan sebagai persiapan melanjutkan studi ke luar negeri. Selain itu, para profesor akan difasilitasi mengikuti program visiting professor di perguruan tinggi luar negeri. Pada aspek penguatan lulusan, Program PRIMA Magang juga menunjukkan hasil positif. Pada 2025, sekitar 16 persen mahasiswa peserta magang berhasil direkrut oleh perusahaan tempat mereka menjalani program tersebut.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Prof. Dr. Amien Suyitno, M.Ag., menyampaikan bahwa minat masyarakat terhadap PTKIN terus meningkat. Hal itu ditunjukkan dengan kenaikan peserta Seleksi Prestasi Akademik Nasional (SPAN) PTKIN sebesar 26 persen. Ia mengatakan Menteri Agama memberikan arahan agar PTKIN mampu menjadi perguruan tinggi yang lebih baik dan semakin kompetitif dibandingkan perguruan tinggi negeri lainnya. Menurutnya, PTKIN juga memiliki tanggung jawab menyampaikan pesan moral dan spiritual kepada masyarakat.
"PTKIN tidak hanya dituntut unggul dalam daya saing akademik, tetapi juga harus menjadi institusi yang menyampaikan pesan moral dan spiritual kepada masyarakat," ujarnya.
Selain itu, pihaknya terus mengawal pembahasan Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (RUU Sisdiknas) yang dinilai semakin mengerucut. PTKIN juga didorong untuk terus memperkuat posisinya menuju World Class University.
Untuk memperkuat dukungan kebijakan, Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam berencana mengundang Komisi X DPR RI mengunjungi sejumlah kampus PTKIN. Berbagai program strategis lainnya juga terus dikembangkan, seperti pembentukan SDGs Center di sejumlah kampus dan penguatan program studi yang berkontribusi pada upaya penanggulangan kemiskinan.
Prof. Amien juga mengungkapkan bahwa reformasi besar-besaran tengah dilakukan di lingkungan Direktorat Pendidikan Islam, termasuk penyesuaian, kontekstualisasi, hingga penghapusan sejumlah kebijakan. Menurutnya, keberadaan sekitar 580 program studi akademik di bawah Kemendikbud menjadi salah satu isu yang perlu segera didiskusikan dalam penyusunan kebijakan pendidikan tinggi.
Ia menjelaskan, ke depan pembentukan program studi akan mengacu pada tiga kategori, yaitu program studi akademik, program studi profesi, dan program studi vokasi. Selain itu, seluruh PTKIN yang belum memiliki ma'had akan dievaluasi karena keberadaan ma'had dinilai sebagai pusat integrasi antara ilmu pengetahuan dan pembinaan karakter keislaman.
"Ma'had menjadi bagian penting dalam membangun integrasi ilmu pengetahuan dan pembinaan karakter mahasiswa di lingkungan PTKIN," ungkapnya.
Sidang Kelulusan UM-PTKIN 2026 tidak hanya menjadi forum penetapan hasil seleksi mahasiswa baru, tetapi juga menjadi ruang konsolidasi nasional bagi PTKIN untuk memperkuat kualitas akademik, meningkatkan daya saing global, sekaligus mengembalikan posisinya sebagai pusat otoritas keilmuan dan keagamaan Islam di Indonesia.
Riki - PUSAT MEDIA DAN PROMOSI
©2026 IAIN Kerinci
- Log in to post comments
