KETIKA MENCINTAI NU BISA SERUMIT DAN SESEDIH INI

KETIKA MENCINTAI NU BISA SERUMIT DAN SESEDIH INI

_Ahmad Inung_

Kita bisa saja pergi sejauh mungkin dari NU, melepas seragam organisasi, atau berhenti percaya pada manuver politik praktisnya yang melelahkan. Kita mungkin sudah jadi masyarakat kota yang rasional, modern, dan tak lagi meromantisasi kiai atau ajaran lama.

Tapi mari jujur pada diri sendiri. Saat organisasi dihujat, kenapa hati kita masih tak rela? Saat dunia makin kaku dan penuh amarah, kenapa kita masih merindukan humor, kehangatan, dan rasa aman saat berkumpul di rumah itu?

Itu karena NU bukan cuma soal kartu anggota atau struktur organisasi. NU adalah "bahasa ibu" bagi batin kita. Kita bisa menguasai banyak bahasa baru, tapi saat berpikir dalam sunyi, pola lama itu tetap ada.

Cinta ini bukan soal setuju atau tidak setuju. Ini soal bagian dari diri sendiri yang sudah terlanjur berakar. Kita bisa pergi, tapi akar itu tidak pernah benar-benar mencabut dirinya.

Ada masa di mana kita merasa perlu melepaskan diri. Kita mengkritik birokrasi, kecewa pada pilihan politik, dan merasa paham keagamaan lama tak lagi cukup menjawab kerumitan dunia kita saat ini. Kita memilih menjauh. Namun, kenapa rasanya ada hampa yang tidak bisa diisi oleh paham baru mana pun?

Karena, yang kita rindukan sebenarnya bukan institusinya, melainkan nilai yang terlanjur membentuk cara kita hidup. Cara kita bertoleransi tanpa memamerkan kesucian, cara kita tertawa di tengah perbedaan, dan cara kita mencintai negeri ini tanpa tapi.

Menjadi "berbeda" hari ini tidak membuat kita kehilangan identitas itu. NU sudah berhenti menjadi sekadar organisasi. Ia telah bertransformasi menjadi diri dan rumah. Dan, sejauh apa pun seorang anak pergi merantau, ingatan tentang rumah akan selalu menemukan jalannya untuk pulang.

Identitas itu bukan saklar lampu yang bisa kita matikan begitu saja. Kita bisa melepaskan atributnya, berhenti aktif di acaranya, bahkan mengkritik jalannya. Tapi kita tidak bisa menghapus fakta bahwa cara batin kita memandang dunia telah dibentuknya sejak kecil.

Yang tersisa hari ini mungkin bukan lagi soal kepatuhan pada lembaga, tapi tentang rasa cinta pada tradisi yang telah membentuk kita menjadi manusia yang utuh.

Mengapa ber-NU bisa serumit ini? Mengapa ber-NU bisa sesedih ini?[]

Oleh : Prof. Dr. Zainul Hamdi