Rektor IAIN Kerinci: Prof. Nasaruddin Umar Telah Memberi Teladan Kepemimpinan Spiritual yang Luhur

Dr. Jafar

 

Sungai Penuh – Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kerinci, Dr. Jafar Ahmad, M.Si., menyatakan rasa hormat dan kekagumannya yang mendalam atas sikap arif dan penuh keteladanan yang ditunjukkan oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. KH. Nasaruddin Umar, dalam menghadapi para demonstran yang sempat melontarkan tuduhan tak berdasar terhadap dirinya.

 

Menurut Dr. Jafar, peristiwa ini menjadi cermin kepemimpinan yang tidak hanya cerdas secara intelektual dan administratif, tetapi juga matang secara spiritual dan emosional.

 

“Ketika seseorang berada di posisi tertinggi dalam struktur keagamaan dan pemerintahan, maka setiap sikapnya akan menjadi teladan. Dan hari ini, Prof. Nasaruddin Umar menunjukkan kepada kita bahwa kekuatan terbesar seorang pemimpin terletak pada kemampuannya memaafkan, bukan membalas,” ujarnya.

 

Dr. Jafar menyatakan bahwa dalam suasana menjelang Idul Fitri, tindakan Prof. Nasaruddin Umar yang dengan tulus memaafkan para demonstran merupakan pesan moral yang sangat kuat tentang esensi kepemimpinan berbasis nilai.

 

“Di tengah atmosfer sosial yang sering kali keras dan penuh kecurigaan, beliau justru memilih jalan kelembutan dan kedamaian. Tidak mudah memaafkan mereka yang sudah menyebarkan fitnah secara terbuka. Tapi beliau melakukannya, dengan hati yang besar dan bahasa yang lembut. Ini bukan hanya soal etika, tapi juga spiritualitas,” ujarnya.

 

Sebagai pimpinan salah satu Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), Dr. Jafar menilai bahwa sikap Menteri Agama sejalan dengan misi utama pendidikan tinggi Islam, yaitu membangun karakter, akhlak, dan pemahaman keagamaan yang tidak berhenti pada wacana, tetapi nyata dalam tindakan.

“Kita diajarkan untuk melakukan tabayyun — klarifikasi sebelum menuduh. Ini bagian dari adab keilmuan dan tanggung jawab sosial kita sebagai kaum intelektual. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa ilmu tanpa akhlak bisa menyesatkan, dan aktivisme tanpa dasar bisa mencederai keadilan,” tegasnya.

 

Dr. Jafar juga mengajak seluruh civitas akademika IAIN Kerinci serta masyarakat umum untuk tidak terjebak dalam arus informasi yang cepat namun tidak valid. Ia berharap, semangat yang ditunjukkan oleh Menteri Agama ini menjadi contoh bagi semua kalangan untuk mengedepankan verifikasi, dialog, dan pendekatan adil dalam menyikapi perbedaan.

 

“Kami di IAIN Kerinci sangat bangga memiliki Menteri Agama yang bukan hanya berilmu tinggi, tetapi juga berhati besar. Beliau adalah simbol dari ulama-negara, cendekiawan sekaligus pemimpin umat. Apa yang beliau tunjukkan bukan sekadar sikap pribadi, tetapi pelajaran kepemimpinan bagi bangsa,” katanya.

 

Menjelang Hari Raya Idul Fitri, lanjut Rektor, tindakan pemaafan dari Menteri Agama ini sejatinya merefleksikan makna Idul Fitri yang lebih dalam: bukan hanya kemenangan dari hawa nafsu, tetapi kemenangan dalam mengedepankan kasih sayang atas amarah.

 

“Idul Fitri adalah waktu yang tepat untuk memaafkan dan memperbaiki hubungan sosial. Prof. Nasaruddin Umar menghidupkan pesan itu dengan nyata. Semoga kita semua bisa belajar dari teladan beliau,” tutupnya.