Dosen dan Mahasiswa Prodi Sejarah Peradaban Islam IAIN Kerinci Telusuri Jejak Islam di Situs Masjid Kuno Lempur

Mesjid Kuno dan IAIN Kerinci

 

Sungai Penuh - Sebagai upaya menguatkan pembelajaran berbasis riset, dosen dan mahasiswa Program Studi (Prodi) Sejarah Peradaban Islam Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kerinci melakukan kunjungan studi lapangan ke Situs Masjid Kuno di Desa Lempur, Kabupaten Kerinci, Jambi, baru-baru ini. Kegiatan ini bertujuan menelusuri jejak sejarah penyebaran Islam di wilayah Kerinci serta mendokumentasikan warisan arsitektur Islam kuno yang masih bertahan.  

 

Tim yang terdiri dari mahasiswa dan dosen tersebut melakukan pendataan struktur bangunan, ornamen kaligrafi, serta wawancara dengan masyarakat setempat untuk mengungkap peran masjid sebagai pusat peradaban Islam di masa lalu. Ketua Prodi Sejarah Peradaban Islam, Jamal Mirdad, M.A., menjelaskan bahwa situs tersebut menyimpan banyak informasi tentang transformasi sosial-keagamaan masyarakat Kerinci. 

 

“Masjid ini menjadi bukti adanya dialektika antara ajaran Islam dan kearifan lokal. Kami menemukan ornamen ukiran kayu bermotif flora yang dipadukan dengan ayat Al-Qur’an, menunjukkan akulturasi yang harmonis,” paparnya.  

 

Rektor IAIN Kerinci, Dr. Jafar Ahmad, M.Si., menegaskan pentingnya kegiatan lapangan seperti ini dalam memperkaya wawasan akademik. 

“Kunjungan ini bukan sekadar observasi, tetapi bagian dari komitmen IAIN Kerinci untuk melestarikan warisan sejarah Islam sekaligus membangun kesadaran kritis mahasiswa terhadap akar budaya dan keagamaan di Kerinci,” ujarnya.  

 

Masjid ini dibangun pada abad ke-19 M, demikian pula Masjid Kuno Lempur Mudik sejak tahun 1931 sudah tidak difungsikan dan tergantikan dengan masjid baru yang lebih besar dan luas. Semula masjid ini terbuat dari kayu dan beratap ijuk, namun sekarang telah diubah menjadi bangunan semi permanen dengan lantai semen dan beratap seng. Masjid Kuno Lempur Mudik memiliki atap berbentuk tumpang 2, pada bagian kemuncak berbentuk bulan sabit dan bintang.

 

Masjid berdenah bujur sangkar berukuran 11 x 11 m, kontruksinya ditopang oleh 16 buah tiang kayu yang berbentuk segi delapan.  Empat buah tiang saka guru berdiameter 0,75 m dan dua belas saka rawa masing-masing berdiameter 0,61 m. Keseluruhan tiang dan permukaannya dipahat dengan motif sulur-suluran,  sedangkan pada dinding kayu berukir motif flora, tali, medalion, dan baluster. Ukiran ini merupakan hasil seni pahat khas masyarakat Kerinci, dan yang sangat mengesankan yaitu ukiran terawangan sulur gelung yang ditempatkan pada keempat sudut dinding bangunan. Kekhasan Masjid Lempur Mudik yang mempunyai kesamaan dengan masjid-masjid kuno di Kerinci, yaitu adanya tempat muadzin mengumandangkan adzan yang berupa panggung kecil dan terletak menempel tiang saka guru.