Allah Tahu Hati Kita Bukan Baja

Allah Tahu Hati Kita Bukan Baja

Pernahkan kalian merasakan beban hidup yang sedemikian berat, kesedihan yang sedemikian pahit, hingga yang terbayang hanyalah kegelapan yang tak berujung? Pernahkah kalian, bahkan membayangkan untuk mati saja karena merasa tidak lagi sanggup menanggung kepedihan?  

Setiap orang pasti pernah mengalami suasana paling kelam dalam hidupnya. Saat-saat seperti itu, kita mungkin berandai-andai: Andaikan aku tak pernah melakukan hal itu tentu aku tak berada dalam situasi ini. Dalam kepedihan yang tak lagi tertahankan, pengandaian ini bisa sampai derajat yang paling jauh:  Seandainya aku mati saja sebelum ini tentu aku tidak berada dalam situasi yang sangat memilukan ini.  

Pada saat yang sangat berat dalam hidup, kita bisa sangat lelah, frustasi, hampir putus asa. Ada hari-hari di mana dada terasa begitu sempit, seolah napas tak lagi punya ruang untuk keluar dan masuk. Segala daya sudah dikerahkan, segala doa sudah dipanjatkan, namun badai tak kunjung mereda. Di titik itu, air mata jatuh tanpa bisa ditahan, dan sebuah keluhan pelan terucap dari bibir yang bergetar. 

Lalu, suara-suara di luar sana, atau bisikan dalam diri kita sendiri, mulai menghakimi: "Di mana imanmu? Mengapa tidak sabar menerima takdir Tuhan? Mengapa iman tidak membawamu pada kepasrahan? Mengapa mengeluh? Bukankah kamu harus selalu kuat?" Berbagai pertanyaan menghakimi terasa semakin menyudutkan. 

Padahal, hati kita tidak terbuat dari baja. Bahkan baja terkuat di dunia pun punya batasnya hingga ia bisa retak dan patah di bawah tekanan yang terus-menerus. Menjadi manusia berarti memiliki rasa lelah. Terkadang, berkeluh kesah bukanlah tanda hilangnya iman, melainkan bukti jujur bahwa kita hanyalah manusia biasa. 

Jika kita merasa berdosa hanya karena merasa tak sanggup lagi melangkah, ingatlah kisah Maryam binti Imran, perempuan suci, terpilih, dan dimuliakan Allah. Saat rasa sakit menjelang  melahirkan menjalar ke seluruh tubuhnya, berpadu dengan ketakutan luar biasa akan tuduhan fitnah dari kaumnya, 

Maryam berada di titik tergelap dalam hidupnya. Di bawah naungan pohon kurma yang sepi, beban hidup itu terasa begitu mustahil untuk dipikul sendirian. Dalam kepekatan yang teramat kelam, ia berucap: 

 فَاَجَاۤءَهَا الْمَخَاضُ اِلٰى جِذْعِ النَّخْلَةِ ۚ قَالَتْ يٰلَيْتَنِيْ مِتُّ قَبْلَ هٰذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَّنْسِيًّا   

"Aduhhai, betapa baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan, lagi dilupakan." QS. Maryam: 23). 

Maryam, sosok yang ketakwaannya tak tertandingi, sempat berharap ia tidak pernah ada. Ia mengeluh. Ia merasa tak sanggup. Apakah Allah memarahinya? Apakah Allah mencelanya karena kata-kata itu? Tidak. 

Allah yang Maha Bijaksana tidak menghukum rasa lelah Maryam. Allah tidak mengutuk kejujuran hatinya. Sebaliknya, Allah mengirimkan pertolongan seketika itu juga. Allah menumbuhkan anak sungai di bawah kakinya dan menjatuhkan buah-buah kurma segar untuk menguatkan fisiknya.  Allah tahu betul kadar beban yang sedang membebani jiwa Maryam. Berkeluh kesah terkadang adalah cara seorang hamba memanggil-Nya. 

*** 

Berbagai tafsir merekam sangat baik peristiwa ini. Hampir semua tafsir memandang bahwa keluhan Maryam ini bukan tanda hilangnya iman dan keputusasaan akan rahmat Allah. Menurut al-Thabari, keluhan ini adalah cermin sempurna dari tingginya rasa malu dan ketaqwaan seorang Maryam. Ia memilih untuk tidak ada di dunia daripada menyebabkan fitnah bagi orang lain. Beberapa mufassir bahkan sampai mengaitkan keluhan Maryam ini dengan hukum seseorang yang mengharapkan kematian. Dalam kasus Maryam, para ulama berpendapat bahwa seseorang diperbolehkan mengharap kematiannya jika alasannya adalah kekhawatiran yang sangat akan  fitnah yang bisa merusak agama dan kehormatannya.  

Dalam Tafsir Al-Mishbah, Quraish Shihab menggambarkan situasi fisik, psikologis, dan sosial yang dihadapi Maryam. Dia sedang menghadapi kegetiran fisik dan mental yang sangat ekstrem. Dia sedang menanggung rasa sakit yang luar biasa akibat kontraksi menjelang kelahiran. Bisa dibayangkan kesakitan dan kepedihan seperti apa yang dirasakan Maryam, seorang ibu muda, yang harus melahirkan seorang diri, di tempat yang sunyi, dan jauh dari keluarganya.  

Kondisi kesakitan fisik ini berpadu dengan beban mental yang teramat berat karena rasa malu terhadap kaumnya yang mungkin akan menuduhnya sebagai pelaku zina. Sebagai seorang perempuan suci yang dikenal terhormat dan berasal dari keluarga saleh, Maryam sangat menyadari konsekuensi sosial yang akan dihadapinya. Begitu dia pulang ke kaumnya sambil menggendong seorang bayi, pasti yang terlontar dari mulut setiap orang adalah tuduhan perzinahan. Sebagai seorang ibu, pasti dia juga membayangkan Nasib anaknya kelak.

Sekarang katakan, siapa di antara kita yang sanggup menanggung bebas seberat itu? Jangankan menjadi Maryam, manusia mana yang sanggup menyediakan bahunya sebagai sandaran perempuan suci itu. Karena itu, ketika Maryam mengeluh, bahkan berharap untuk mati saja, Allah tidak marah. Allah tahu bahwa Maryam telah membuktikan bahwa dia lebih baja dari baja.  

*** 

Kisah Maryam ini menyadarkan kita bahwa Allah dengan Kemahabijaksaan-Nya, lebih bisa memahami hati kita daripada manusia.  Al-Qur'an merekam keluh kesah dan getaran jiwa manusiawi orang-orang suci saat diuji dengan penderitaan ekstrem, untuk menunjukkan bahwa mereka tetaplah manusia yang bisa merasakan lelah, sakit, dan cemas.  

Kita sering kali terlalu keras pada diri sendiri. Kita menuntut jiwa kita untuk selalu berdiri tegak seperti karang di tengah lautan, menganggap setiap tetes air mata sebagai bentuk kekufuran. Padahal, ada perbedaan besar antara menolak takdir dengan merasakan sakitnya takdir. Menolak takdir adalah marah pada Tuhan dan berhenti percaya. Sementara, merasakan sakitnya takdir adalah menangis di sajadah, mengakui keterbatasan diri, dan berbisik, "Ya Allah, aku lelah sekali...."

Tuhan tidak menciptakan kita dari batu atau logam yang keras. Dia menciptakan kita dari segenggam tanah dan meniti nafas kehidupan di dalamnya. Tubuh kita tersusun dari tulang dan daging yang bisa patah dan berdarah. Dia merancang diri kita lengkap dengan rasa sakit, rasa takut, dan rasa lelah. Jadi, biarkan diri kita menjadi manusia biasa.  

Jika hari ini langit di atas kepala terasa begitu gelap, dan beban di pundak seolah meremukkan tulang, tak apa jika ingin menangis. Mari sejenak beristirahat! Tak perlu berpura-pura selalu tersenyum di hadapan semua orang jika memang hati kita sedang berdarah. Mari lepaskan beban! Tak perlu merasa bersalah hanya karena kita berkeluh kesah saat sujud di atas sajadah.  

Mari tumpahkan semua rasa ketakutan dan kelelahan tanpa perlu menata kata-kata yang indah. Tuhan paham betul bahasa air mata kita. Mengeluh dalam rapuh tidak membuat iman menjadi gugur. Itu hanya menandakan bahwa kita telah berjuang sangat keras sampai di titik ini. 

Tuhan Maha Tahu betapa beratnya perjuangan kita yang tak pernah dilihat oleh orang lain. Dia tidak sedang menghakimi kita. Dia sedang menunggu kita bersandar, melepaskan baja yang telah retak, dan membiarkan kasih sayang-Nya memeluk jiwa kita yang lelah.

Jadilah Maryam! Tetaplah bernapas! Tak apa untuk merasa tidak baik-baik saja hari ini. Karena di mata Sang Pencipta, kita tidak harus selalu menjadi baja. Kita hanya perlu menjadi hamba-Nya yang terus pulang, sejauh dan seberat apa pun jalan yang sedang kita tempuh. 

Tuhan bukanlah rentenir yang akan mencekik kita sampai mati. Dia senang melihat kita berpayah-payah dalam usaha dan mencucurkan air mata di hadapan-Nya, tapi Dia tak akan membiarkan kita mati sia-sia. Kisah Maryam memberi pelajaran bagi kita: Di balik himpitan ujian yang seolah mematikan, pertolongan Allah selalu datang bagi hamba-Nya yang sabar dan bertawakal.

Saya ingin menutup tulisan ini dengan sebuah catatan reflektif dari seorang teman: “Nanti kamu akan mengerti, bahwa skenario Tuhan tidak selalu bisa dibaca di awal cerita. Ada bagian yang sengaja ditunda, agar sabarmu punya makna. Dan ada yang sengaja dipercepat, agar hatimu tahu ini bukan sekedar kebetulan. Di saat kamu berhenti mengejar, bukan karena menyerah, tapi karena mulai berserah, Tuhan justru menghadirkan apa yang dulu kamu pinta, dengan cara yang tak pernah kamu duga. Di saat kamu tak lagi sibuk menghitung kemungkinan, Tuhan membuka jalan yang tak sempat masuk dalam rencanamu. Kamu akan paham bahwa, tidak semua yang tertunda adalah penolakan dan tidak semua yang datang tiba-tiba adalah keberuntungan. Sebagian adalah jawaban yang disimpan terlalu rapi oleh langit. Maka, tenanglah! Tidak semua hal harus kamu kejar sampai lelah. Ada yang cukup kamu ikhlaskan.   

Ahmad Inung 

Kepala Pusat Strategi Kebijakan Pendidikan Agama dan Keagamaan, Kemenag RI

Sumber: https://www.arina.id/khazanah/ar-yabxx/allah-tahu-hati-kita-bukan-baja